smile

share for smile

Dodol dan Dodong :-)

Saya lagi seneng nih guys. Coba tebak kenapa? Hehehe (kumat alay). Maunya, saya berbagi kesenangan lewat tulisan sejak Senin dua minggu lalu. Tapi mau gimana lagi, saya lagi sok sibuk, sok hibernasi, sok kharismatik, dan sok-sok lainnya. Baru deh kesampean sekarang. Terlambat gapapa kan, daripada tidak sama sekali hehe...

4 Maret lalu, saya gak milad. Gak habis menang lotre juga. Pokoknya, gak ada sesuatu hal yang membuat saya kejatuhan buah durian tiba-tiba. Hari itu saya rapat redaksi ITS Online seperti biasa. Kelar rapat pun pulang ke kos seperti biasa (emang mau pulang kemana lagi? Hehe)

Nah, sesampai di kos, ada yang ngasih bungkusan unyu. Gak terduga isinya soalnya dibungkus pake koran plus nongol kabel data yang baru dipinjam. Asli, gak nyangka. Isinya sepasang lampu lumba-lumba unyu. Jadi inget, dulu saya pernah ngidam lumba-lumba mini yang dibuat si encep buat tugas akhir, tapi gak boleh diminta huhu. Dan, lampu lumba-lumba ini mirip banget, cuma lebih unyu sih.

Saya emang suka lumba-lumba. Menurut gue, lumba-lumba itu binatang yang unyu bin gemesin banget. Coba lihat badannya yang gedhe itu haha. Gue pingin punya boneka mulai dari ukuran mini sampe yang jumbo segedhe manusia. Saya baru punya yang ukuran 2/4, warnanya biru. Ada lagi warna pink, ukuran ¾. Ini juga pemberian dari ITS Online saat saya sakit. Nah, belum punya yang ukuran ¼ dan 4/4 haha
lumba-lumba 3/4

lumba-luma 4/4 di toko huhu (cuma bisa dilihat dalam diam)
 Lampu lumba-lumba unyu ini udah masuk kategori 1/4. Kapan ya punya yang ukuran 4/4, mahal sih. Cuma diliatin aja deh di toko (kasian banget!!!)
unyu :-)
Terima kasih ya buat sepasang lumba-lumba unyu-nya. Tapi, belum kepikiran namanya haha. (saran nama dari si pemberi: dodol dan dodong atau dolay. Sesuai yang punya, katanya -_-)



Labels : Free Wallpapers | Supercar wallpapers | Exotic Moge | MotoGP | Free Nature | car body design

Si Bapak

Hari ini, masih sama. Saya menjalani rutinitas makan dengan peraturan bersyarat 3x sehari. Sekali dilanggar, oh men, mungkin saya kembali menjalani kunjungan singkat di hotel ter-wah. (ah, saya belum tulis soal ini, sabar ea).

Pagi sudah menunjukkan pukul 09.00. Saya bersiap cari sarapan sekaligus ingin melihat keberadaan bapak penjahit. Bukan karena saya mau menjahitkan baju, tapi karena janji membantu kakek untuk wawancara beliau. Maklum, kakek bilang, saya orangnya supel (itu mah gue udah tau dari dulu haha ups), sedangkan dia sangat pemalu (yah, dia memang Pe-makan me-lulu hehe).

Sebenarnya, saya agak sangsi bisa menemui si bapak. Alasannya simpel, saya jarang melihat bapak itu. Terakhir kali, sosoknya tertangkap sudut mata saya adalah tepat setelah Kerja Praktek (KP). Dan, oh meeeen, itu lima bulan yang lalu. Terlebih lagi, baju saya fine-fine saja, tak perlu ada yang pingin dijahit. 

Tapi, karena dasarnya si kakek ini ngotot bilang bapaknya masih setia buka tempat jahit di sebelah sakinah, saya mau coba tengok ke sana. Padahal kos saya tepat sebelah sakinah 2 ya, kok saya ndak tahu? Ini gue yang begok, gak update, gak geol, atau gimana?

Akhirnya, tepat pukul 09.10 saya nangkring di ibu penjual lontong depan sakinah, sambil nanya-nanya singkat.

S: Bu, bapak penjahit sudah buka belum ya?
I: Yang biasa jahit di depan situ (sambil menunjuk tukang kunci)?
S: iya bu.
I: Yang sempat pindah ke gang pasar?
S: iya bu. (saya mengiyakan terus ya)
I: Oh, bapak yang rajin ke masjid itu kan?
S: iya bu, yang setiap mendengar adzan langsung berangkat ke masjid.
I: Oh, bapaknya baru saja meninggal.
S: (Shock) Innalillahi, kapan bu?
I: Belum sampai 30 harinya ini.
S: speechless.

Ah, entah kenapa memori saya langsung terkuak tentang bapak satu ini. Saya baru tahu, namanya Pak Sholeh, dari perbincangan itu. Padahal, sudah setahun lebih saya berinteraksi dengan beliau. Saya terbiasa memanggil Bapak, menganggap beliau bapak saya sendiri. Beliau ramah, suka guyon, dan suka bercerita, khas orang tua. 

Pernah suatu ketika, ia bercerita tentang keluarganya, kehidupan anaknya, sakitnya, dan banyak hal lainnya. Meski terkadang, saya bingung sendiri, apa yang membuat si bapak begitu terbuka pada saya. Tapi, satu hal. Saya suka mendengar ceritanya, sembari menunggu jahitan kelar. Saya pun suka dengan kesabarannya. 

Dari beliau, saya sering mendapat petuah. Terlebih, soal sabar yang kata orang tidak ada batasnya. Dalam keadaan apapun, kita harus sabar. Begitu katanya. Saat bercerita soal sakit yang pernah mendera hingga absen menjahit 30 hari lamanya, beliau pun berkali-kali menyebut si sabar. "Allah itu menguji kita karena tahu kita pasti melewatinya. Sakit ini tidak seberapa. Jadi, kudu ikhlas, sabar, dan bersyukur," katanya saat itu, entah saya lupa kapan tepatnya.

Bapak itu selalu tersenyum, untuk semua hal yang terjadi di sekitarnya. Permasalahan dengan salah seorang anggota keluarga pun hanya ditanggapi dengan seulas senyum. "Masalah itu bukan untuk di-suudzan-i. Makin mikir negatif sama Allah, malah makin runyam." Ah, jujur, saya kagum, benar-benar kagum.

Pernah saya datang menjahit dengan muka ditekuk pangkat seribu, si bapak lagi-lagi malah tersenyum. "Ayo ikut ke masjid, tenangkan hati dan pikiran. Atau mau jaga alat jahit saya ini di sini?" katanya sembari guyon. Pak Sholeh, beliau dikenal begitu rajin sholat berjamaah. Adzan berkumandang, pasti beliau langsung bergegas. Alat jahit dan baju-baju yang ingin dipermak itu seolah tak dihiraukannya. Katanya, begitulah caranya bersyukur.

Sekarang, saya tak bisa menjumpai sosoknya. Serangan jantung, begitu kata para tetangga di gang pasar menyebutkan alasan. Ada yang bergejolak di hati saya ketika mendengar 'serangan jantung. Sesuatu hal serupa, 17 tahun lalu, pernah membuat saya ingin menjadi dokter spesialis jantung. 

Bapak, wajar kan saya menangis? Saya masih ingin bergurau dan mendengar petuah bapak. Juga main ke rumah bapak seperti janji bapak saat itu. Entah kapan itu, suatu saat saya ingin datang ke rumah yang selalu bapak banggakan itu. Semoga amal ibadah bapak diterima di sisi Allah. 


22 Januari 2013

 



Labels : Free Wallpapers | Supercar wallpapers | Exotic Moge | MotoGP | Free Nature | car body design

Ah, Si Tomboi

“Kamu itu tomboi”
Huft, pernyataan itu selalu saja saya dengar tiap bertemu orang. Nggak di temen kuliah, temen main, temen SMP, temen SMA, sampai yang baru kenal sehari juga bilang saya tomboi. Jadi ingat, ada teman alay yang tidak pernah mau mengakui kebenaran gender saya. (D=dia, S=saya)

D: Kamu itu lebih mirip cowok daripada perempuan
S: Jahatnya, emang saya tomboi gitu?
D: Ngaca dong! (jleb ckit ckit, sakiiiiit)
S: Saya kan kalem.
D: Kamu stres ya? Hahahaha
S: -_- (dalam hati teriak aseeeeeeem)

Memangnya saya setomboi itu? Pernah saya bilang saya tidak tomboi, tapi malah dibilang fitnah. Oh men, sedihnya...Kurang kalem apa saya? Haha. Ya ya, saya menyadari itu kok. Kapasitas kekaleman dan ketomboian saya sepertinya sangat tidak berimbang.

Saya suka hitam ketimbang pink, saya lebih suka sepatu kets ketimbang sepatu yang penuh pita. Saya suka main bola ketimbang ikutan ekstrakurikuler tari. Saya suka nonton bulutangkis, bola, dan motoGP. Ah, saya suka semua hal yang berbau simpel.

Saya jadi ingat, ibu saya pernah ngasih uang hanya untuk satu alasan. Agar saya pergi beli rok. Dengan begitu, saya pasti terlihat perempuan tulen, huks. Hmm..ini terjadi dua tahun lalu. Sayangnya, saat itu saya mengecewakan ibu. Saya memang pergi ke Lamongan, tapi yang saya bawa pulang bukan rok, melainkan celana panjang. Hahahaha..Tau apa yang dikatakan ibu saya waktu itu?

“Nduk, kapan sampean jadi lebih perempuan?” (haha...i am sure, my mom very happy now)

Ya begitulah saya. Tapi, adakah yang sadar, saya juga suka hal yang berbau perempuan lho. Saya suka menjahit, menyulam (gini-gini pernah juara menyulam lho hehe). Saya juga suka membuat sesuatu berbau handmade, seperti sebuah buku lucu, ups. Ah ya, saya suka masak lho. Baru beberapa bulan sih, tapi yang nyicipi masakan saya bilang, masakan saya enak kok (narsis nich).

Temen saya yang alay itu juga pernah bilang, sepertinya saya memiliki dua gender. Saya bisa melakukan hal yang dilakukan perempuan, juga yang dilakukan laki-laki. Multitasking banget, dari masak sampai benerin genteng bocor. Jadi, nanti saya bisa jadi ibu rumah tangga sekaligus bapak rumah tangga kalau si bapak lagi repot hahaha (asem ya)...

Satu hal yang tak banyak orang tahu, saya juga suka gelang. Jangan tertawa, karena itu bukan fitnah. Menurut saya, gelang itu benda yang unik. Gabungan beberapa ornamen yang dirangkai lucu. Yah, saya memang tidak suka memakai gelang sih. Cuma, saya suka mengamati. Jadilah, saya pernah beli beberapa gelang. (Duch, fotonya blur banget di HP)

  ini gelang yang dibeli saat magang di Radar Surabaya
 ini beli di Lamongan sama adek gue
yang ini beli di Makassar saat Pimnas hehe

Saya katakan sekali lagi, saya tidak begitu suka memakai gelang. Tapi, beberapa bulan ini saya sering memakai sebuah gelang pemberian teman. Kenapa? Saya senang saja dapat gelang. Karena saya menghargai pemberian orang lain, saya selalu pakai dengan senyum lho hehe.
Yang ini pemberian dari teman :-)

Rasanya, saya jadi lupa, kalau saya tidak suka memakai benda satu ini. Saya merasa jatuh cinta pada gelang putih ini, makanya sering saya pakai. Saya jadi berpikir, teman saya satu itu juga selalu mengatakan saya tomboi, tapi kenapa dia memberi saya gelang? Jangan-jangan, itu sindiran biar saya cepat transformasi jadi perempuan tulen haha. (i love myself)

Ah, saya tidak peduli apa alasannya, yang jelas saya suka. Meskipun gelang ini sudah berubah warna (dari pink jadi putih haha), meskipun gelang ini lebih simpel ketimbang yang saya punya, tapi bagi saya gelang ini bukan sekedar sesuatu yang kecil. Dan, saya jujur mengatakan ini hehe

Buat teman saya yang memberikan gelang ini, gimana kalau kita pakai gelang yang sama? Trus bikin boyband. Hahaha jadi ngakak, nggak mungkin ya. 

Labels : Free Wallpapers | Supercar wallpapers | Exotic Moge | MotoGP | Free Nature | car body design

Cuma 30 Menit

Setelah semedi di Gua Akbar, saya jadi gandrung nulis nih. Sebuah berkah yang luar biasa setelah empat bulan lamanya saya menghilang dari peredaran dunia curcol hehe. Bayangkan saja, ada yang bilang karena kebanyakan nonton film, saya jadi males nulis. Ada juga yang bilang, saya sok sibuk sampai gak sempet publish tulisan yang sudah satu folder (ups, tulisan apa ya?). Padahal, saya yakin banyak yang kangen tulisan di blog saya hahaha (narsis itu indah :p)

Saya mau corcol soal kepulangan singkat saya ke Lamongan nich (ojo diwoco alay yo). Sabtu lalu, saya ada urusan beasiswa di Pemkab Lamongan bersama Sustia (teman dekat sejak SMA yang kebetulan nangkring di ITS, yang secara kebetulan pernah jadi teman sekamar, teman sekos, juga teman makan mie ayam, ngok).

Karena kuis Pengendalian Proses yang bikin cenut-cenut tujuh turunan ditunda, kami sepakat berangkat pagi dari Surabaya. Janjiannya sih jam 7. Saya bilang, janjiannya ya. Tapi, entah kenapa jadinya malah molor. Saya jadi bingung sendiri, dua kali saya di-PHP-in nih. Sustia yang ngajak jam 7 ternyata bangun terlambat, huks. So, keberangkatan kita mundur 30-45 menit. Dan saya dalam keadaan kelaparan. Kasihan banget..

Muka-muka orang kelaparan itu pasti kelihatan dari jauh. Saya nggak mau dibilang ‘melas’ di tengah jalan. Saya juga nggak mau tanduk saya keluar sampai 78 tanduk. Kaget? Saya sendiri juga kaget kok. Tapi, ini jujur lho. Percaya atau tidak, setiap saya lapar, kadar sensitif saya jadi meningkat ribuan kali. Kalau kamu melakukan sesuatu hal yang membuat hati saya gak enak dalam keadaan saya lagi lapar, wah siap-siap dapat lemparan wajan, panci, pisau, pedang, kursi, meja, dan semua perabotan rumah tangga. #enake

Tapi karena Sustia belum hafal betul kebiasaan saya yang satu ini, akhirnya saya sudah bersiap beli makanan. Cukup roti ukuran kecil, sebotol minuman, dan beberapa snack yang biasa jadi oleh-oleh buat adik saya. Setidaknya, roti itu sudah cukup menghilangkan wajah kelaparan saya hehe.

Nah, setelah sarapan di tempat paling keren (angkot men), saya dan Sustia asyik curcol. Kami curcol banyak hal lho. Dari soal kuliah, kesibukan, sampai cara menurunkan berat badan. Bahasan terakhir memang agak lucu. Temen saya satu ini memang lagi merasa berat badannya sudah melebihi ambang batas normal, ups. Padahal gue juga merasa bernasib sama haha, tapi EGP deh, iya nggak?

Lupakan soal berat badan deh. Udah nggak zaman ngomongin berat badan. Kalau emang gemuk, kenapa? Masalah buat loe? Masalah buat gue? #apa sih

Hari itu saya senang pulang ke Lamongan. Mengamati banyak hal yang sudah berubah. Ya, teramat banyak hingga saya benar-benar pangling. Turun dari bis, kami naik becak melewati sepanjang Jalan Veteran. Yang terlihat pertama adalah SMA Negeri 2 Lamongan, sekolah saya yang famous itu (narsis maneh).

Sekolah saya ini sudah berwajah baru lho. Gedungnya jadi bertingkat, fasilitas lebih lengkap, dan rasa-rasanya makin besar saja. Jadi teringat, setiap istirahat, kami memanggil para penjual itu dari koperasi dengan dihalangi pagar terkunci. Berasa narapidana yang melas haha. Sekolah saya berubah, tapi penjual batagor, pentol, molen, dan es dawet masih sama. Terkadang, saya suka hal yang masih sama 

Beberapa meter kemudian, kami melewati warnet kecil. Ah, jadi ingat lagi. Dulu saya dan Sustia hobi ngenet di situ. Termasuk ketika daftar ke ITS, kami berdua juga bolak-balik ke situ lho. Di sampingnya, dulu hanya ada rumah biasa. Sekarang, ada cafe megah, juga supermarket. Ih wow...kemana saja gue selama ini kok baru tahu?

Ada lagi warnet lain yang biasa kami tongkrongi. Lokasinya tidak jauh dari warnet sebelumnya. Hanya saja, saya jadi heran. Warnet itu sudah raib, digantikan laundry. Wow lagi..ada laundry di sini. Dulu tak ada laundry di Veteran, jadul banget ya.

Becak masih melaju, kami ganti melewati Universitas Islam Lamongan (Unisla). Tempat ini adalah tempat saya pertama kali membuat email alay berkedok Shinichi hehe. Dulu, ruang komputer kampus ini terletak di paling ujung. Harus melewati halaman sangat luas untuk sampai di sana. Tapi sekarang, halaman itu sudah berganti gedung-gedung bertingkat.

Hanya sebentar  perjalanan saya di sepanjang Veteran, sekitar 30 menit kalau ditambah waktu ngendon di Pemkab. Tapi, saya merasa 30 menit ini berkesan. Kami nostalgia banyak hal. Ah sayang, nostalgia ini kurang lengkap tanpa mie ayam langganan saya dan Sustia.

Kapan kita berempat bisa makan bareng di sana lagi? 

Labels : Free Wallpapers | Supercar wallpapers | Exotic Moge | MotoGP | Free Nature | car body design

PHP Lu!

Tahu nggak rasanya di-PHP? Sakit banget deh, suer! Fakta ini sudah diujicoba bertahun-tahun dengan ribuan narasumber lho. Percaya nggak?  (apa sih? Haha). Maaf ke-alay-an saya lagi kambuh nih hehe..

Kali ini, saya mau ngomong soal PHP. Bukan PHP-nya Hypertext Preprocessor, tapi ini PHP-nya anak gaol. Kalau kalian ketemu anak gaul zaman sekarang, atau kalian sendiri memang bagian anak gaul, pasti deh ngerti istilah PHP. Ini singkatan dari Penerima Harapan Palsu atau Pemberi Harapan Palsu. Dan, saya lagi kena imbas PHP dengan arti yang pertama. Sedihnya..

Jadi gini ceritanya, saya dan empat teman jurusan ikutan jalan sehat Dies Natalis ITS. Ada Dwi, Wildan, Bang Jack, dan Mahendra. Sebenarnya, saya dan dua sahabat saya sudah merencakan ikutan acara ini sejak sebulan lalu. Awalnya, jalan sehat ini memang bakal dihelat 11 November. Tapi, entah angin topan dan banjir jenis apa yang membuat jadwal awal bergeser jauh jadi 2 Desember.

Kita beneran serius ikut acara ini lho. Sekali lagi, suer! Bagaimana tidak, saya yang ada urusan di Lamongan Sabtu pagi, langsung balik ke Surabaya sorenya. Dwi dan Wildan yang diminta ibu tercintanya pulang pun, tetap bersikokoh di Surabaya. Semangat kami bernostalgia memang keren ya hehe (apa lagi sih).

Ah ya, ini memang soal nostalgia masa-masa polos jadi mahasiswa baru. Kalau tidak salah, tiga tahun lalu kami mengikuti acara serupa. Acara yang lebih ramai ketimbang kali ini, lebih banyak hadiahnya, juga lebih banyak keberuntungannya (yang terakhir, ada makna tersirat hehe).

Tapi, saya jujur lho, tahun itu kami memang beruntung. Sebuah magicom dan kipas angin super gedhe berhasil kami bawa lari ke Lumajang dan Lamongan. Eh, kami bawa pulang ke kos. Kos Dwi yang paling kondusif pun dipilih sebagai tempat penyimpanan barang berharga itu. Sembari menyimpan, kita buka lapak di web ITS, alias tarik ulur harga bagi siapa saja yang punya niat luhur membeli. Namun, karena semua harga tidak sesuai, dua barang keren itu berakhir di tangan si empunya.

Kali ini, kami ingin mendulang kesuksesan yang sama. Yah, barangkali dewi fortuna datang sambil ngasih salam tempel bermerk Honda Revo. Tidak ada yang bisa memprediksi kan? Iya nggak? J

Semua kebahagiaan itu terhempas ketika avatar kora lebih memilih tinggal di film, ketimbang ikut saya ke acara jalan sehat. Eh ngawur! Maksud saya, ending yang ingin kita buat indah akhirnya hancur berkeping-keping gara-gara satu hal. Dwi bangun terlambat, hiks. Saya yang bangun pertama sudah sms Wildan dan membangunkan Dwi. Dan seperti biasa, proses dari bangun tidur sampi finish siap berangkat itu lamaaaaaaaaaa haha. Saya dan Wildan cukup mafhum. Kami jadi teringat masa-masa dulu. Dwi ketiduran pas kami janjian bareng hihi.

Karena keterlambatan yang tidak disengaja ini, kami baru berangkat ikut jalan sehat pukul 07.30. Waktu yang terlampau siang untuk ukuran jalan sehat. Di mana-mana, jalan sehat pasti dimulai pukul 05.30 atau pukul 06.00. Saya sih berpikir positif saja, mungkin jalan sehat baru dimulai karena hujan baru mengguyur Surabaya shubuh tadi.

Alhasil, tanpa tampang bersalah, kami bertiga jalan dengan semangat 45 sembari asyik guyon. Tepat di Blok T, kami barulah cegek (terkaget-kaget, red). Jalanan ITS benar-benar terlihat sepi. Kami jadi was-was, jangan-jangan acaranya sudah kelar. Oh men, padahal kostum kami sudah oke, botol minum juga sudah di tangan hehe.

Inisiatif pun datang dari Wildan. Ia menghubungi Bang Jack yang menurut kami sudah berangkat duluan, secara dia mau biasa ngojek di sana. (Ups, jujur amat). Wildan yang komat-kamit ngobrol di telp, tiba-tiba memberikan hp-nya pada saya. Dan, inilah pembicaraan yang terjadi antara saya dan Bang Jack.

S: Bang Jack, jalan sehat sudah kelar ta?
B: Belum kok, ini masih belum pengumuman hadiah.
S: Lha, jalannya sudah selesai? Kuponnya?
B: Sudah lah. Saya sudah capk ini. Oh, kupon ambil aja di Statistika. Tapi nggak yakin juga sih hehe. (Dia sudah mematahkan harapan kami di awal hiks)

Sudahlah, anggap omongan terakhir Bang Jack itu angin lalu. Seperti angin berhembus, yang datang, lantas pergi begitu saja (ngek). Kami semangat jalan menuju Jurusan Statistika. Sesampai di sana, hanya nihil yang kami temui. Semua sudah sepi. Kami pun menyadari satu hal, dewi fortuna lagi mampir di tempat lain. Okelah, terima saja, ikhlas rek. Kami tidak kebagian kupon. Sedih versi jumbo deh.

Kami pun memutuskan menikmati banyak makanan tanpa menanyakan lagi kedatangan si dewi fortuna. Pertama, kami mencicipi buah-buah segar. Belum berapa lama, krupuk menarik perhatian kami. Selanjutnya secara berurutan, kami beli lumpia dan cireng. Kesimpulannya, jalan dari kos ke stadion sepertinya membakar satu kilogram lemak, tapi kami pulang bawa dua kilogram lemak haha.

Tahu nggak, kami jadi merasa aneh sendiri. Selama pengumuman hadiah jalan sehat, kami cuma bisa melihat kupon khalayan yang asyik menari-nari. Untungnya ada hiburan makanan, kalau tidak, saya sudah kayang depan panggung haha. Melihat semangat kami (atau kemelasan ya?), dewi fortuna nyatanya masih baik hati. Ia mau mampir sejenak lewat Bang Jack dan Mahendra. Mereka bawa dua tiket milik masing-masing, yang dengan kesepakatan sepihak, langsung jadi tiket bersama. Hoho

Kalau dapat hadiah, kami (tepatnya kami bertiga) sepakat bagi hasil. Kalau dapat Honda Revo, kami juga sepakat bagi lho. Ada yang mau BPKB, ada juga yang mau mesinnya doang. Yah, itu hanya kesepakatan kami. Kesepakatan sepihak yang berujung merasa di-PHP-in. Dari lima motor yang ada, dua netbook, dan puluhan hadiah lainnya, nomor yang tertera di kupon kami sama sekali tidak disebut. Sedihnya...

Tak apalah, meski harus menunggu tiga jam tanpa hasil, kami sudah puas kenyang dan guyon haha. Kami juga sudah melihat proses pemberian cincin dari Mahendra ke Bang Jack (Karena Mahendra belum beli cincin asli, cincin saya disikat buat Bang Jack. Romantis alay ya mereka hahahaha)
Itu Mahendra, ngapain merem ya? lagi berdoa mungkin hehe

Apa ini nostalgia terakhir kawan? Saya harap tidak begitu. Semoga suatu saat, kita bisa jalan sehat bareng lagi tanpa di-PHP. Sepakat? Hehe.

Nb: ini tahun terakhir kita ikut jalan sehat sebagai mahasiswa, amin :-)

Labels : Free Wallpapers | Supercar wallpapers | Exotic Moge | MotoGP | Free Nature | car body design

Finally, i can see u

2 Juli lalu, saya sangat senang. Mencoba kuliner lezat lagi kawan. Itu memang hobi saya. Kali ini, saya lagi gandrung ikan bakar. Bukan di sekitar kampus ITS, Kertajaya, atau daerah sekitarnya, tapi di belahan bumi pantai kenjeran. Saya memang ingin makan ikan bakar di tepi laut, meski lautnya tak bisa didefinisikan lewat kata-kata. Hehe..

Berangkat sekitar pukul 16.00, saya melaju ke pantai kenjeran. Kecewa, warung kecil sebelum jembatan Suramadu itu tutup. Akhirnya, sejenak melupakan ikan bakar, saya menuju arah selatan, tempat orang-orang berkumpul. Sore hari, matahari senja, angin semilir (yang bisa membuat masuk angin), sebuah alam yang menenangkan kalau saja tak ada sampah berserakan di situ.
seharusnya indah
coba lihat sampahnya, oh men

matahari terbenam :-)

rame banget, antre panjang dari Madura
Setelah puas, menatap perahu yang asyik terdampar itu, saya bergerak melewati jembatan suramadu. Menyeberang hingga puluhan warung terlihat. Satu per satu, saya jelajahi, berharap itu adalah warung ikan bakar. Sekali saja mencium bau asap, saya langsung bergegas. Tapi sayang, lagi-lagi hasilnya nihil. Hanya ada sate bakar haha.

Tanpa hasil, saya langsung kembali menyebang jembatang suramadu. Sebab, adzan magrib memang sudah berkumandang kala itu. Saya pun berhenti sejenak di sebuah masjid tak jauh dari si jembatan.

Usai sholat, suara gendang di perut makin saja menimbulkan kegaduhan. Maklum, terakhir kali makan pukul 8.00. Rasanya, lapar sudah benar-benar menyergap. Penuh semangat, saya melaju lagi menyusuri Surabaya malam. Menemukan warung ikan bakar di depan SMK 5 (yang lebih dikenal STM Pembangunan).

Langsung saja, saya pesan gurame ukuran jumbo plus sambel dobel, ditambah jeruk hangat. Ah iya, tak ketinggalan, tumis kangkus ala cumi (agak aneh). Wow, yummy!!! Hehe

Ada Si Dolphin

Selesai berkutat dengan makanan lezat itu, saya tak lantas pulang. Sebuah baliho besar di sekitar Pakuwon City, menyita perhatian saya. Ada pentas lumba-lumba dari tanggal 22 Juni hingga 22 Juli mendatang. Saya tak ingin melewatkan, apalagi saya akan segera berurusan dengan KP.

Mungkin, saya dinilai childish (whatever lah hehe), tapi ini memang murni keinginan saya sejak kecil yang belum pernah terwujud. Keinginan ini mungkin saja bisa terpenuhi 22 Juni lalu. Kalau saja saya tak ketinggalan rombongan, tanpa tiket di tangan, dan kehilangan pentas si lumba-lumba. Oh men, you know, lumba-lumba itu benar-benar hewan yang unyu dan menggemaskan.

Sekali lagi, keinginan itu terwujud dengan tiket seharga Rp 20 ribu. Selama 45 menit, saya menikmati atraksi lucu dari Kakaktua, Robert dan Markonah (nama kucing laut haha ngakak), Boni si beruang, dan dua ekor lumba-lumba. Saya sempat mendokumentasikannya lho hehe....

Kalian tahu bagaimana perasaan saya setelah melihat lumba-lumba itu? berbinar-binar. Ingin rasanya foto bareng, tapi melihat puluhan orang antri ditambah harganya yang cukup lumayan (mending dipakai buat makan), saya pun hanya bisa melambaikan tangan. See you again!!! Hehe

Berharap suatu hari nanti bisa melihat lagi, ...........

Labels : Free Wallpapers | Supercar wallpapers | Exotic Moge | MotoGP | Free Nature | car body design

One Day


 Just one day...!!!
Usai telah beralih. Hanya satu angka. Tak ada kata yang bisa menjelaskan, hanya angka sudah menunjukkan 21 tahun. Perjalanan yang cukup panjang. Bukan berarti tak ada makna tersirat. Meniti langkah dari titik yang sekedar tahu kata 'ibu' dan 'ayah' hingga ribuan kosakata sudah memenuhi benak.

Umur dari tahun ke tahun memang akan terus berlari. Menjauh. Bertambah bilangan angka. Sedang di saat yang sama, usia berlari mendekat. Mengurangi jatah hidup di dunia. Maka saat seseorang berada di tanggal kelahirannya, ia seperti berada di rest area. Sebuah kesempatan memuhasabah amalnya. Memeriksa kendaraan jiwanya. Bagaimana keadaannya. Olinya. Remnya. Bensinnya. Bannya. Dan jarak tempuh yang sudah dicapainya. Sejauh mana titik tolak sudah dilewati. Sedekat apa kota tujuan akan dimasuki. Meski nun jauh di ujung sana, masih banyak hal misterius bakal mendatangi.

Setahun ini telah berlalu begitu saja, cepat. Banyak memori yang tak bisa terlupa. Tertawa, menangis, berjuang, bertahan, dan jatuh. Ada keluarga, sahabat, kakak, teman, dan orang-orang di sekeliling. Ya, ada mereka semua dengan seulas senyum.

Ya Allah, akankah aku akan bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan? akankah aku masih diberi kesempatan? Ya allah, ampuni segala khilaf ini.Ya allah, jika Engkau ijinkan bertemu di tahun depan, jadikanlah  hamba yang lebih baik ibadahnya, lebih bermanfaat, dan lebih bersyukur atas segala nikmat. :)

***
Tanggal 27 Juni, menjelang umur ini bertambah esoknya, aku ingin bercerita banyak pada ibu. Bercerita banyak hal yang selama ini kelu dari lidahku. Aku ingin bercerita semua. Tapi, masih tertunda. Hehe.

Malam sebelum 21 tahun, aku menangis. Menangisi banyak hal yang setia berputar-putar di benakku. Sudahlah, itu bukan hal yang perlu ditangisi. Bukannya, aku berjanji untuk selalu tersenyum dan tegar? Meski hari itu mataku benar-benar berat. But, iam very happy.

Sebuah surprise kecil, kudapat dari teman-teman ITS Online. Terima kasih telah membuat hari itu berkesan. Terima kasih untuk kado tak ternilai, tawa kalian. Terima kasih untuk segala doa terucap dari semua. Meski selalu saja aku dibilang alay, tapi, kalian lebih alay lho hari itu (mengajarkan aku 10 gaya alay, ingin upload foto alay-nya tapi takut menghancurkan image saya haha).

4 Juli 2012
Satu lagi, terima kasih banyak untuknya :-)


Labels : Free Wallpapers | Supercar wallpapers | Exotic Moge | MotoGP | Free Nature | car body design